Nyadran Makam "Panti Laya", Warisan Budaya yang Terus Dijaga Warga Karangber

12 Februari 2026
WHEWEN LAIL SHAPUTRA
Dibaca 648 Kali
Nyadran Makam "Panti Laya", Warisan Budaya yang Terus Dijaga Warga Karangber

Warga Karangber kembali menggelar tradisi tahunan Nyadran Makam Panti Laya sebagai wujud pelestarian adat dan penghormatan kepada para leluhur. Kegiatan yang berlangsung pada 11–12 Februari 2026 ini dipusatkan di area Makam Panti Laya dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar.

Tradisi Nyadran ini merupakan bentuk kearifan lokal yang terus dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Padukuhan Karangber. Selain menjadi sarana doa bersama bagi arwah leluhur, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Momentum ini dimanfaatkan sebagai pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai budaya dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kerja bakti membersihkan area Makam Panti Laya. Warga tampak antusias bergotong royong merapikan makam, memangkas rumput, serta membersihkan lingkungan sekitar. Kerja bakti ini menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian masyarakat terhadap warisan leluhur yang harus dijaga bersama.

Pada rabu malam, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian yang diisi oleh Kyai Burhanudin. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pentingnya menjaga tradisi yang selaras dengan nilai-nilai keislaman serta memperkuat keimanan dan persaudaraan. Acara ini turut dihadiri Dukuh Karangber, Whewen Lail Shaputra, para tokoh masyarakat, serta warga yang memadati lokasi kegiatan dengan penuh khidmat.

Dalam sambutannya, Dukuh Karangber Whewen Lail Shaputra menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga tradisi Nyadran. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bentuk nyata penghormatan kepada leluhur serta sarana memperkuat persatuan warga. “Melalui Nyadran ini, kita tidak hanya mendoakan para pendahulu, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong kepada generasi muda agar tradisi ini tetap lestari,” ujarnya.

Suasana semakin khusyuk saat dzikir tahlil dan doa bersama dipimpin oleh Kaum Rois Padukuhan Karangber, Busrowi. Lantunan doa menggema di area makam sebagai bentuk penghormatan dan permohonan ampun bagi para leluhur yang telah mendahului. Kebersamaan dalam doa ini menjadi inti dari tradisi Nyadran yang sarat makna spiritual.

Sebagai penutup, warga melaksanakan prosesi tabur bunga di pusara Makam Panti Laya. Prosesi ini menjadi simbol cinta dan penghormatan kepada leluhur, sekaligus refleksi diri agar generasi penerus tidak melupakan akar sejarahnya. Melalui pelestarian tradisi Nyadran ini, masyarakat Padukuhan Karangber menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai religius dan kebersamaan di tengah perkembangan zaman.

Nyadran Makam "Panti Laya", Warisan Budaya yang Terus Dijaga Warga Karangber
Nyadran Makam "Panti Laya", Warisan Budaya yang Terus Dijaga Warga Karangber
Nyadran Makam "Panti Laya", Warisan Budaya yang Terus Dijaga Warga Karangber